Banjir Kampung Tanjung Mentok dan Keberanian Kebijakan yang Harus Diuji




Penulis: Komarudin, Agus, Reza, Joy, Kemis, Budi, Aldi, Andi, Satrio, Belva dan Tim 

MENTOK, BANGKA BARAT — Banjir rob kembali datang seperti tamu lama yang hafal letak kunci rumah warga. Minggu pagi (04/01/2026), air laut pasang dan air laut setinggi hampir setengah meter menyusup ke Kampung Tanjung, Kelurahan Tanjung, Mentok, datang tanpa izin, tanpa basa-basi. Gang-gang sempit berubah menjadi lorong air, ruang tamu menjadi kolam darurat dan sepeda motor terdiam seperti monumen kegagalan pengelolaan ruang pesisir.

Aktivitas warga berhenti. Kehidupan ditunda. 

Bagi Kampung Tanjung, banjir bukan lagi peristiwa. Ia adalah rutinitas yang diwariskan, sebuah kalender penderitaan yang selalu hadir saat pasang laut naik. Namun ironisnya, baru pada genangan yang kesekian kali inilah Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menyatakan bahwa banjir tidak lagi dianggap sebagai siklus tahunan, melainkan persoalan struktural.

Pernyataan itu terdengar tegas. Sayangnya, bagi warga yang saban tahun mengangkat perabot ke tempat tinggi, kalimat tersebut terasa seperti pengakuan yang datang terlalu lambat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan tidak pernah diam. Peringatan dini potensi banjir pesisir Bangka Belitung telah dikeluarkan hingga 10 Januari 2026. Bulan Purnama, fenomena Perigee dan pasang maksimum air laut adalah fakta ilmiah yang berulang, bukan kejutan kosmik.

“Fenomena astronomi ini memperbesar pasang laut maksimum, sehingga air lebih mudah masuk ke daratan, terutama wilayah pesisir dengan sistem drainase terbatas,” tulis BMKG dalam peringatan resminya.

Dengan kata lain, banjir ini bisa diprediksi, bisa dihitung dan seharusnya bisa dicegah. Tetapi di Kampung Tanjung, ilmu pengetahuan berhenti di kertas rilis, sementara air laut masuk sampai kamar tidur.

Bagi warga Kampung Tanjung, banjir bukan sekadar air asin yang lewat lalu pergi. Ia meninggalkan tagihan sosial dan ekonomi yang harus dibayar sendiri.

Barang elektronik mati.
Perabot berjamur.
Lantai rumah lapuk.
Pekerjaan harian terhenti.
Anak-anak terkurung tanpa ruang bermain.
Penyakit kulit dan nyamuk datang bergantian.

“Air masuk sampai ruang tamu dan kamar tidur. Kalau drainase tidak dibetulkan, kami tiap tahun begini terus,” kata Ibu Beni, Ketua RT Kampung Tanjung.

Kalimat itu sederhana, tetapi menampar. Sebab yang diminta warga bukan teknologi luar angkasa, melainkan drainase yang berfungsi sebuah kebutuhan dasar yang selama bertahun-tahun gagal dipenuhi.

Kepala BPBD Bangka Barat, H. Safrizal, S.E., menyatakan bahwa banjir kali ini sudah diantisipasi.

“Kami sudah melakukan sosialisasi dan peringatan kepada masyarakat sejak seminggu sebelumnya agar siap siaga. Kondisi saat ini sudah berangsur surut,” ujarnya, Minggu (04/01/2026).

Pernyataan itu benar. Tapi di sinilah ironi bekerja. Peringatan dini tanpa solusi struktural hanya mengajarkan warga untuk bersiap tenggelam dengan lebih rapi.

BPBD hadir saat air datang, menenangkan warga agar bersabar, lalu menunggu air surut. Setelah itu, siklus kembali ke awal menunggu pasang berikutnya.

Rp300 Miliar: Keberanian atau Pengakuan?
Langkah yang disebut paling berani datang dari Bupati Bangka Barat, Markus, S.H. Pemerintah daerah mengusulkan anggaran sekitar Rp300 miliar ke pemerintah pusat untuk penanganan banjir permanen di Mentok dan Parit Tiga.

“Kalau anggaran ini turun, kita bisa melakukan stabilisasi besar dan mengakhiri banjir yang sudah lama dirasakan masyarakat,” tegas Markus, Kamis (11/12/2025).

Pernyataan ini sekaligus menjadi pengakuan jujur bahwa selama ini banjir dibiarkan karena tidak pernah diprioritaskan secara anggaran.

Rencana itu mencakup:

normalisasi dan rekonstruksi drainase pesisir,

pembangunan embung atau bozem skala besar di Parit Tiga,

sistem pelepasan air terintegrasi antara hujan dan pasang laut,

mitigasi jangka panjang berbasis kajian teknis.

“Ini bukan kunjungan formal. Kita ingin masalah ini selesai, bukan sekadar dikunjungi,” ujar Markus.

Kalimat itu terdengar tegas, namun warga Kampung Tanjung sudah terlalu sering melihat pejabat datang dengan sepatu kering dan pergi sebelum air benar-benar surut.

Di Gedung Serbaguna Mentok, dapur umum menyala. Aroma nasi hangat bercampur bau lumpur. Relawan, BPBD, TNI dan warga bekerja dalam ritme yang sama ritme darurat.

Seorang relawan muda menyerahkan nasi bungkus kepada seorang nenek dengan tangan gemetar. Seorang anak kecil memeluk kotak makanannya seolah itu satu-satunya kepastian hari itu.

Sebanyak 800 karung beras 5 kilogram dibagikan melalui kolaborasi relawan dan awak media (Komarudin, Agus, Rudi, dan Belva). Kemanusiaan hadir cepat. Kebijakan permanen, entah kapan.

Di sudut dapur, Safrizal ikut mengawasi. Negara memang hadir tetapi selalu setelah air masuk rumah.

Banjir di Kampung Tanjung belum berakhir. Ia hanya berhenti sejenak, menunggu pasang berikutnya. Yang berubah hanyalah narasi resmi dari “banjir musiman” menjadi “masalah struktural”.

“Banjir ini harus diakhiri. Tidak boleh lagi menjadi warisan penderitaan untuk anak-anak kita,” ikrar Markus.

Kini publik menunggu, apakah kalimat itu akan menjadi kebijakan nyata, atau sekadar kalimat indah yang ikut hanyut bersama air rob dan air banjir berikutnya.

Sebab bagi warga Kampung Tanjung, banjir bukan soal alam.
Ia adalah cermin negara sejauh mana pemerintah benar-benar hadir, bukan hanya ketika air sudah masuk rumah.

Sumber Primer dan Literatur Pendukung:

Pernyataan Kepala BPBD Bangka Barat, H. Safrizal, S.E.
Disampaikan Minggu, 04 Januari 2026.

Pernyataan Bupati Bangka Barat, Markus, S.H.
Disampaikan Kamis, 11 Desember 2025.

Wawancara Warga Kampung Tanjung (Ibu Beni, Ketua RT).
Dokumentasi lapangan banjir rob Januari 2026.

BMKG – Peringatan Dini Banjir Pesisir Bangka Belitung Lintasbabel.iNews.id. https://lintasbabel.inews.id/663351

WowBabel.com – Banjir Rob Rendam Pesisir Mentok. https://www.wowbabel.com/lokal/59816377198/

Lintasbabel.iNews.id – Warga Kampung Tanjung Minta Solusi Jangka Panjang. https://lintasbabel.inews.id/read/657826/

WowBabel.com – Bertahun-tahun Banjir Rob di Tanjung. https://www.wowbabel.com/lokal/59816382647/

ANTARA News – BPBD: Ratusan Rumah di Bangka Terdampak Banjir Rob. https://www.antaranews.com/berita/5291476/bpbd-ratusan-rumah-di-bangka-terdampak-banjir-rob

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

close
Selamat Datang di Media Nasional Krimsustv Media Nasional website krimsustv.online