Dilema Kampung Tanjung Mentok dan Banjir yang Sengaja Dibiarkan




Mentok, Bangka Barat — Air laut kembali masuk ke rumah-rumah warga Kampung Tanjung, Kelurahan Tanjung, Mentok, Minggu (04/01/2026) pagi. Setinggi hampir setengah meter, banjir rob tidak lagi sekadar menggenangi jalan, tetapi menyentuh ruang paling privat yaitu  ruang tamu, kamar tidur dan dapur. Di tempat inilah warga makan, tidur dan membesarkan anak-anak mereka. Hari itu, semua ruang itu dikuasai air.

Bagi warga Kampung Tanjung, banjir bukan kejadian luar biasa. Ia adalah rutinitas yang datang tanpa undangan dan pergi tanpa pamit. Genangan cokelat susu memenuhi lorong-lorong sempit yang seharusnya menjadi nadi kehidupan kampung. Sepeda motor terendam hingga setengah badan. Pakaian digantung tinggi di teras. Pintu rumah dibiarkan terbuka, bukan sebagai simbol keramahan, melainkan sebagai strategi bertahan agar air bisa keluar lebih cepat.



Dalam dokumentasi warga, air setinggi lutut orang dewasa menjadi pemandangan yang berulang dari tahun ke tahun. Seolah kampung ini dipaksa menerima satu takdir yaitu hidup berdamai dengan banjir, karena tak pernah benar-benar dilindungi dari negara.

“Air masuk sampai ruang tamu dan kamar tidur. Kalau drainase tidak dibetulkan, kami tiap tahun begini terus,” kata Ibu Beni, Ketua RT Kampung Tanjung.

Kerugian warga tak lagi bisa dihitung dengan angka kecil. Barang elektronik rusak, perabot lapuk, lantai rumah lembab dan berjamur. Anak-anak terkurung di rumah, kehilangan ruang bermain yang aman. Risiko penyakit kulit dan demam berdarah meningkat, sementara kecemasan tumbuh lebih cepat daripada air yang surut.

Yang paling menyakitkan bagi warga bukanlah banjir itu sendiri, melainkan kesadaran bahwa penderitaan ini telah lama diketahui namun tak pernah sungguh-sungguh ditangani.

Secara meteorologis, banjir rob ini telah diperingatkan. BMKG menyebut wilayah Bangka Belitung berada dalam fase rawan banjir pesisir hingga 10 Januari 2026 akibat pasang maksimum air laut, Bulan Purnama dan fenomena Perigee yang meningkatkan elevasi muka air laut.

Namun, di Kampung Tanjung, alam hanyalah pemicu. Akar persoalan ada di darat pada drainase yang sempit, tersumbat dan tak pernah dinormalisasi secara serius.

Saluran air di kampung ini sebagian besar dipenuhi sedimen, sampah dan lumpur. Air hujan dan air laut tak punya jalur keluar. Ketika pasang naik bertemu hujan deras, kampung ini berubah menjadi mangkuk besar tanpa lubang pembuangan.

Warga mengaku telah berkali-kali melakukan kerja bakti. Membersihkan saluran seadanya. Menggali lumpur dengan alat sederhana. Namun usaha ini seperti menimba laut dengan ember kecil.

Beberapa warga bahkan menyebut sedimentasi di kawasan pesisir yang dibiarkan tanpa pengelolaan serius turut memperparah kondisi. Tidak ada sistem bozem, tidak ada pintu air modern, tidak ada rekonstruksi drainase terpadu. Yang ada hanyalah infrastruktur tua yang dibiarkan menua bersama masalahnya.

Di titik ini, banjir Kampung Tanjung bukan lagi persoalan teknis. Ia telah menjadi persoalan kebijakan atau lebih tepatnya, ketiadaan kebijakan yang berpihak pada warga pesisir.

Setiap kali banjir datang, respons yang muncul hampir selalu sama yaitu peninjauan, dokumentasi, bantuan darurat. Mi instan dibagikan. Kasur digelar. Foto-foto diambil. Setelah itu, air surut dan negara ikut surut bersamanya.

“Kami capek bersih-bersih sendiri. Sudah saatnya pemerintah turun tangan, bukan hanya meninjau tapi benar-benar menolong,” ujar seorang warga lanjut usia, matanya menatap jalan kampung yang berubah menjadi sungai.

Warga Kampung Tanjung tidak meminta kemewahan. Mereka menuntut hal paling mendasar dari sebuah negara yaitu perlindungan dan keberpihakan.
Bukan bantuan sementara, tetapi:

normalisasi drainase menyeluruh,

rekonstruksi sistem pembuangan air modern,

mitigasi permanen banjir pesisir.

Berbagai laporan media, termasuk ANTARA, mencatat bahwa ratusan rumah di Bangka Barat berulang kali terdampak banjir rob. Data ada. Peringatan ada. Korban terdampak banjir ada. Namun kebijakan nyata yang menyentuh akar masalah tak kunjung terlihat.

Banjir rob di Kampung Tanjung hari ini adalah akumulasi dari keputusan-keputusan yang ditunda, dari pembangunan yang lebih sering berhenti di wacana. Ia menjadi simbol bagaimana wilayah pesisir kerap diposisikan sebagai pinggiran ditengok saat darurat, dilupakan saat normal.

Hari ini air mungkin surut. Namun tanpa kebijakan yang tegas dan keberanian politik untuk bertindak, banjir akan kembali. Kampung Tanjung akan kembali menjadi berita bukan karena solusi, melainkan karena kegagalan yang terus diwariskan dari satu musim ke musim berikutnya.

Referensi dan Sumber:

Lintasbabel.iNews.id – BMKG Peringatkan Potensi Banjir Pesisir di Babel sampai 10 Jan 2026
https://lintasbabel.inews.id/663351

WowBabel.com – Warga Tanjung Mentok Terendam Banjir Rob
https://www.wowbabel.com/lokal/59816377198/

Lintasbabel.iNews.id – Masyarakat Minta Pemerintah Perhatikan Banjir di Bangka Barat
https://lintasbabel.inews.id/read/657826/

WowBabel.com – Bertahun-tahun Banjir Rob Melanda Pesisir Tanjung
https://www.wowbabel.com/lokal/59816382647/

ANTARA News – BPBD: Ratusan Rumah di Bangka Terdampak Banjir Rob
https://www.antaranews.com/berita/5291476/bpbd-ratusan-rumah-di-bangka-terdampak-banjir-rob

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

close
Selamat Datang di Media Nasional Krimsustv Media Nasional website krimsustv.online