BANGKA SELATAN, TOBOALI — Kekecewaan menyelimuti warga pengguna Jalan Raya Bikang–Jeriji. Meski dibangun dengan biaya mencapai Rp119 miliar dan menggunakan teknologi modern berupa mortar foam, kondisi jalan tersebut kini kembali memperlihatkan keretakan parah sepanjang hampir 200 meter.
Padahal, baru tiga bulan lalu jalan tersebut ditambal dan diperbaiki. Pekerjaan yang dilakukan PPK dari BPJN Babel itu tampaknya tidak menyentuh akar persoalan — keretakan kembali terbuka, terlihat jelas sepanjang ruas dekat Jembatan Bikang.
Retak Lagi Meski Sudah Ditambal
Pemantauan awak media pada 26 Agustus 2026 memperlihatkan keretakan yang menjalar sepanjang jalan. Bagian yang sudah ditambal pun kembali terlihat retak saat dilintasi kendaraan. Padahal, perbaikan tersebut baru selesai dikerjakan beberapa bulan sebelumnya.
Secara teknis, biaya penambalan saja di lokasi ini berkisar puluhan juta rupiah — satu penutupan celah dengan metode sand sheet saja diperkirakan menghabiskan sekitar Rp35 juta. Namun hasilnya tak bertahan lama, menimbulkan pertanyaan tajam: di mana letak kesalahannya?
Dugaan Kelemahan Pengawasan & Konstruksi
Fakta bahwa perbaikan baru berumur 3 bulan sudah rusak kembali memunculkan dua dugaan kuat:
- Pengawasan di lapangan lemah, sehingga pekerjaan tidak diawasi sesuai standar;
- Konstruksi awal tidak sesuai spesifikasi, sehingga kerusakan berulang terus terjadi meski sudah ditambal berkali-kali.
Warga mempertanyakan efektivitas belanja rutin pemeliharaan yang terus-menerus dikeluarkan, namun kerusakan tetap berulang. Apakah ini menjadi biaya rutin yang tidak pernah tuntas diselesaikan?
Masih Menunggu Penjelasan
Hingga berita ini diterbitkan, awak media masih berupaya mengonfirmasi langsung kepada pihak BPJN Babel maupun instansi terkait guna mendapatkan penjelasan terkait penyebab kerusakan berulang serta langkah perbaikan permanen yang akan diambil.(Red)
Tags:
Berita
