MENTOK – Belum lama zona perairan Tembelok dan Keranggan dipasang tanda larangan dan digerebek aparat, kini lokasi itu kembali berubah menjadi medan eksploitasi ilegal. Puluhan ponton selam terlihat beroperasi leluasa—bahkan sengaja bekerja dimalam hari—untuk mengelak pengawasan, Sabtu (25/7/2026).
Kondisi ini terasa makin ironis karena terjadi tepat setelah pergantian pimpinan di Polres Bangka Barat. Padahal sebelumnya Satpolairud pernah menindak tegas, mengamankan alat dan menangkap pelaku, sekaligus mendapat dukungan kuat penolakan dari warga yang menolak lautnya dijarah. Kini semuanya seolah musnah: larangan diabaikan, penertiban tak berbekas.
Masyarakat bertanya tajam:
✅ Mengapa keberanian mereka kembali begitu besar?
✅ Siapa yang kini memberi "lampu hijau" dan perlindungan?
✅ Mengapa zona yang sudah jelas dilarang bisa dibuka kembali seolah wilayah tanpa hukum?
"Baru saja ditenangkan, sekarang ramai lagi. Kerja malam karena takut ketahuan. Siapa yang berani menjamin keamanan mereka?" begitu ujar warga yang prihatin sekaligus marah.
Fakta ini makin menguat dugaan: adanya kekuatan atau perlindungan tertentu yang membuat pelaku tambang ilegal merasa kebal hukum—meski aturan, larangan, dan penegakan hukum sudah pernah diterapkan di lokasi yang sama.
Sampai berita ini tayang, awak media masih terus menelusuri siapa aktor di balik kebangkitannya aktivitas ini dan meminta konfirmasi resmi kepada pihak kepolisian serta instansi terkait. Perkembangan selanjutnya akan segera diberitakan.
Redaksi membuka ruang hak jawab seluas-luasnya bagi pihak yang disebut maupun instansi berwenang untuk memberikan penjelasan dan bukti fakta di lapangan.
(Redaksi)
Tags:
Berita
